Murah Hati Itu Sifat Alami Manusia


Jakarta, Teori biologi dan ekonomi menyebut sifat dasar manusia itu egois alias mementingkan diri sendiri. Jadi tidak heran kalau manusia itu pelit. Tapi siapa sangka dalam penelitian terbaru, sifat pelit bukanlah sifat asli manusia karena pada dasarnya manusia itu sangat murah hati.

Konon manusia selalu memberi dengan harapan akan mendapat imbalan yang setimpal. Namun penemuan oleh ilmuwan dari UC Santa Barbara membuktikan tanpa konsekuensi apa pun dan tanpa tekanan apa pun, murah hati adalah sifat alamiah manusia.

Ilmuwan melakukan serangkaian simulasi komputer yang dirancang untuk menguji apakah benar terjadi evolusi yang membuat sifat murah hati manusia muncul, atau karena terdesak dalam pilihan dan berharap sikap murah hatinya mendapat imbalan di masa depan.

Penelitian menunjukkan hasil yang mengejutkan bahwa kedermawanan atau membantu orang lain tanpa adanya keuntungan di masa datang ternyata muncul secara alami sebagai hasil dari evolusi proses kerjasama manusia.

Dalam bermurah hati, penderma mengeluarkan biaya yang bermanfaat untuk orang lain. Meskipun dari sudut pandang ekonom, mengeluarkan biaya tanpa adanya kompensasi atau prospek keuntungan dianggap irasional dan dipandang maladaptive (tidak mampu menyesuaikan diri) oleh ahli biologi.

Jika perkataan ekonom dan ahli biologi itu benar, maka perilaku dermawan tersebut pastinya terjadi oleh evolusi yang panjang. Karena dari teori ekonomi dan biologi, sifat manusia pada dasarnya mementingkan diri sendiri, sehingga kemurahan hati ‘yang berlebihan’ hanyalah merupakan akibat dari tekanan sosial atau penyesuaian dengan budaya. Tapi penelitian terbaru mematahkan hal tersebut karena setelah proses evolusi sifat manusia itu pada dasarnya pemurah.

“Ketika penelitian terdahulu mengukur pilihan orang-orang dengan hati-hati, mereka menemukan bahwa orang-orang dahulu di seluruh dunia lebih murah hati. Kemudian teori ekonomi dan biologi memerintahkan mereka untuk melakukan hal yang sesuai perkiraan mereka,” kata Max M. Krasnow, seorang sarjana postdoctoral di Pusat UCSB untuk Psikologi Evolusioner seperti dikutip pshycologytoday, Rabu (27/7/2011).

“Tapi simulasi kami menjelaskan bahwa alasan orang lebih murah hati daripada yang diprediksi oleh teori ekonomi dan biologi adalah karena ketidakpastian yang melekat dalam kehidupan sosial,” kata Andrew Delton, sarjana postdoctoral di Pusat Psikologi Evolusi.

Ini karena manusia tidak pernah tahu pasti apakah interaksi yang dilakukan dengan orang lain sekarang ini hanya akan terjadi satu kali saja atau berlanjut tanpa batas waktu. Kebutuhan untuk melakukan sesuatu secara bersama membuat manusia secara alami menjadi lebih pemurah.

Simulasi ini menunjukkan bahwa seleksi alam menyokong manusia untuk memperlakukan orang lain seolah hubungan akan terus berlanjut, bahkan ketika ia percaya bahwa interaksi tersebut hanya terjadi satu kali saja. “Meskipun tidak mungkin untuk mengetahui kepastian yang sebenarnya dengan utuh, simulasi kami dirancang menggunakan ‘standar emas’ penalaran rasional,” kata Krasnow.

Sumber

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: