Menghilangkan Fobia pada Anak


RASA takut memang wajar dialami oleh anak. Namun jika rasa takut sudah mengarah pada rasa fobia, ini pasti menyiksa, malah bisa juga memengaruhi pertumbuhannya. Nah bagaimana mengatasinya?

Fobia pada ketinggian mungkin biasa. Tetapi bagaimana bila buah hati Anda fobia terhadap halhal sepele, seperti fobia pada angka tertentu atau fobia pada keadaan tertentu.

Fobia terbagi menjadi dua macam, ada fobia rasional atau fobia yang masih bisa dimaklumi seperti fobia pada ketinggian karena anak takut jatuh. Ada juga fobia irasional, seperti takut pada buku atau air.

Sebenarnya, seseorang wajar-wajar saja jika alami ketakutan. Tetapi apabila seseorang sudah dikategorikan ke dalam bahasan fobia, maka takut yang seperti itu bukanlah takut yang wajar dan normal.

Dikatakan oleh psikiater dari Psychosomatic Clinic Rumah Sakit Omni Intenational Hospital Alam Sutera, Tangerang, dr Andri SpKJ bahwa takut adalah keadaan di mana seseorang berhadapan dengan sesuatu yang tidak disukainya, sesuatu yang dihindari, atau sesuatu yang dianggap mengancam keutuhannya sebagai seorang manusia.

Sementara fobia adalah ketakutan irasional yang sangat terhadap suatu objek tertentu, keadaan, ataupun situasi dan secara sadar berusaha untuk menghindari halhal tersebut karena menimbulkan penderitaan yang sangat apabila menghadapinya.

”Fobia ini bisa dikatakan sebagai suatu penyakit dan merupakan salah satu subtype dari gangguan kecemasan menurut manual diagnosis gangguan jiwap sikiater Amerika yang keempat (DSM-IV),” ujar dia.

Saat mengalami fobia, maka reaksi yang dilakukan anak umumnya adalah terlihat lewat rengekan, tangisan, jeritan, anak menjadi gemetaran karena terlalu takut. Anak juga menjadi berkeringat, muka ketakutan dan bersembunyi, bahkan anak bisa mendekap orang tuanya hingga tidak mau lepas. Perasaan ini akan menyiksa anak, yang bisa saja mengganggu aktivitas anak sehari-hari. “Orang yang mengalami kondisi fobia akan sulit melakukan sesuatu yang di dalamnya terkandung situasi atau objek yang ditakutinya,” ungkap Andri.

Setiap kali seseorang yang alami fobia berinteraksi dengan sumber fobianya, maka secara otomatis akan merasa cemas. Agar “nyaman”, maka cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan “mundur kembali” atau regresi kepada keadaan fiksasi.

Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus-menerus ditekan kembali ke bawah sadar (represi). Pola respons negatif tersebut dapat berkembang terhadap subjek- subjek fobia lainnya dan intensitasnya semakin meningkat.

Penyebabnya pun beragam, bahkan bisa berasal dari hal sepele. Misalnya saja fobia pada anak bisa muncul karena ditularkan oleh orangtuanya. Karena takut pada sesuatu atau kondisi tertentu, tanpa sadar orang tua akan melarang anak dengan cara menakut-nakutinya. Anak pun bisa jadi memiliki imajinasi berlebih akan hal-hal yang ditakuti oleh orangtuanya tersebut.

Misal “Jangan naik-naik, nanti jatuh sakit lo. Atau jangan keluar malam, takut lo kalau gelap, nanti banyak setan yang seram”. Katakata yang seperti itulah yang tertanam pada anak jika orang tua merasa yakin dengan metode yang dirasa cukup ampuh untuk memaksa anak agar mau menuruti apa yang diinginkan orang tuanya. Atau bisa saja pola asuh seperti itu diikuti oleh sang pengasuh sehingga pengasuh pun akan ikut menakut-nakuti anak sebagai senjata agar anak nurut kepadanya. “Tanpa orangtua sadari, pola asuh semacam itu justru berdampak negatif bagi perkembangan kejiwaan anak,” jelasnya.

Fobia dapat disembuhkan walaupun memakan waktu. Cara penyembuhan bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan terapi, seperti dengan cara terapi perilaku. Namun yang penting, jelaskan kepada anak bahwa anak harus mau dan berkomitmen untuk berubah atau sembuh. Selain itu, untuk menyembuhkan, maka fobianya harus dikenali jelas oleh pasien dan adanya alternatif mekanisme adaptasi terhadap perasaan takut dan atau cemas yang ditimbulkan oleh kondisi fobianya.

Masih dijelaskan Andri, pasien yang mengalami fobia biasanya akan diterapi perilaku dengan cara desensitisasi sistemik, yaitu pasien dihadapkan secara bertahap kepada objek atau situasi yang membuatnya cemas atau ketakutan. Situasi atau objek yang menimbulkan kecemasan ini digradasi tingkatannya dari yang paling ringan membuat kecemasan sampai yang paling kuat membuat kecemasan.

Ada juga cara membayangkan situasi atau objek yang membuat cemas. Cara lain yang bisa dilakukan yaitu dengan membanjiri (flooding) pasien dengan kondisi yang membuatnya cemas atau takut sampai pasien tidak mampu lagi merasakan ketakutan itu lagi karena telah melewati batas toleransinya. Psikolog dari Sekolah Langkah Ku, Aliva Abdullah MPsi menuturkan, umumnya fobia terjadi karena ada suatu kejadian traumatik yang memicu anak menjadi fobia. Kejadiannya tidak selalu langsung berhubungan dengan apa yang menjadi fobia si anak.

Psikolog yang akrab disapa Liva ini menyarankan kepada orangtua untuk segera melihat seberapa jauh fobia mengganggu aktivitas anak. “Dengan pendekatan orangtua ke anak, maka orangtua bisa melihat apakah perlu menggunakan konseling atau terapi dengan pihak ketiga untuk membantu mengurangi dan menghilangkan fobia,” ungkap Liva.

Tinggalkan komentar anda untuk tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: