Memakai Gelar S1 dan S2 Sekaligus Cermin Narsistis-Negatif


CUKUP lama Indonesia menganut sistem gelar Kontinental (Eropa) dan sistem Anglo Saxon (Amerika) sekaligus. Itulah sebabnya ada gelar Drs (Kontinental), MA (Anglo Saxon) lulusan Amerika. masalahnya adalah, gelar sarjana Indonesia diakui sederajat di negara-negara Eropa. Sedangkan gelar sarjana diakui setara sarjana muda di Amerika. Maka saya mengusulkan ke pemerintah agar mengindonesiakan gelar sarjana. Logikanya sederhana saja. Kalau ada SE dan SH, kenapa tidak ada ST, SSos dan lain-lain? Maka muncullah istilah S1, S2 dan S3 yang menggunakan gelar-gelar yang diindonesiakan baik S1 maupun S2. Tampaknya gelar S3 belum diindonesiakan.

Huruf S pada S1, S2 dan S3 merupakan singkatan “strata” atau “jenjang”. Sama dengan tangga yang mempunyai beberapa anak tangga. Artinya, sesudah S1, maka naik ke S2 dan S1 tidak perlu dipakai. Sesudah S3 maka S2 tidak perlu dipakai. Nyatanya banyak sarjana yang cara berlogikanya tidak demikian.

Narsis

Banyak sarjana yang memakai gelar S1 dan S2 sekaligus. Alasannya, S2-nya mengambil dari fakultas lain, universitas lain atau bidang ilmunya lain. Sebuah cara berlogika yang menyalahi “filsafat strata”. Tidak menyadari bahwa gelar S1, S2 dan S3 adalah gelar berdasarkan strata atau jenjang.

Dari sudut psikologi, pemakaian gelar S1 dan S2 lebih bersifat narsis.

Antara lain:

-Ingin dianggap hebat

-Ingin dianggap lebih pintar daripada yang S1

-Ingin mencari “wah” dari orang lain

-Ingin memuji diri sendiri atau dipuji orang lain

-Ingin menunjukkan dia sukses

-Ingin diperhatikan orang lain

-Ingin lebih dihargai orang lain

-Dan manifestasi sikap-sikap narsis lainnya.

Hampir semuanya bukan sarjana psikologi dan bukan sarjana filsafat. Itulah sebabnya mereka tidak tahu apa itu narsistis dan tidak tahu mana logika yang benar dan mana logika yang salah.

Narsistis-Negatif

Narsistis-Negatif karena mereka memuji dirinya sendiri dan haus pujian dari orang lain, tanpa tahu bahwa cara memakai gelar demikian merupakan manifestasi cara berlogika yang kacau balau. Sebab, sesudah naik ke S2, maka seharusnya gelar S1 tidak perlu dipakai.

Misalnya

-Sesudah dapat gelar MM, seharusnya gelar SE-nya tidak perlu dipakai

-Sesudah dapat gelar MH, seharusnya gelar SH-nya tidak perlu dipakai

Dikatakan narsistis-negatif karena apa yang diharapkan justru merupakan manifestasi sebaliknya. Artinya, ingin menunjukkan kehebatan dan kepintarannya, justru menunjukkan ketidakcerdasan dan kebodohannya sendiri. Paling tidak, sarjana psikologi dan sarjana filsafat harus mengetahui hal tersebut.

Hanya menambah ilmu

Sebenarnya, perubahan dari S1 ke S2 dan dari S2 ke S3 hanyalah proses menambah ilmu. Sedangkan cara berlogikanya tidak mengalami perubahan sedikitpun. Tidak ada kemajuan dalam cara berlogikanya.

Semoga bermanfaat

Sumber

About these ads
Comments
One Response to “Memakai Gelar S1 dan S2 Sekaligus Cermin Narsistis-Negatif”
  1. kanisius mengatakan:

    sayapun stuju dengan pernyataan diatas karena saya juga pernah berpikir begitu, bahkan saking mereka menggensinya gelar mereka sampai mereka sebagai dosen juga lupa memberi penilaian yang efektif pada mahasiswaya, bahkan satu semester hanya mengajar 4 kali. tetapi memberi nilai yang memahayakan pada mahasiswa. hanya berpikir pada gelar saja

Akang Teteh mangga komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 634 pengikut lainnya.